Mengukur Kecantikan Seorang Wanita

Kecantikan seorang wanita bukanlah selalu diukur dari keindahan fisiknya walaupun terkadang dominan tapi bukan berarti mutlak.

Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan Bersama Para Bidadari Kos

Tidak terasa sampai juga kita di bulan Suci Ramadhan. Bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Bulan dimana setiap pahala dilipatgandakan, bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim diseluruh dunia karena keutamaan-keutamaanya yang menyertainya.

Tips Mendapatkan Jodoh Pada Saat Salat Tarawih

Mungkin selama ini anda tidak menyadarinya adanya peluang untuk mendapatkan jodoh pada saat salat tarawih sebelum saya memberitahukannya kepada anda lewat tulisan ini.

Menjadi Kaya Dengan Sedekah

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat.

Tips dan Trik Untuk Orang Yang Sedang Patah Hati

Tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak ada obatnya.

CINA UDIK: Lari Dari Pembantaian, Hidup Dalam Ketakutan (Bagian 1)


Mendengar kata udik mungkin sebagian orang menganggapnya kampungan, pedalaman atau rendahan. Padahal menurut kamus Bahasa Indonesia arti dari kata Udik berarti Selatan sama seperti  Ilir yang berarti Utara.

Nama-nama tempat di Jakarta secara tradisional juga asalnya Ilir (bukan Hilir) dan Udik, sebelum sekarang diganti menjadi Utara dan Selatan (KECUALI Bendungan Ilir, yang jadi Bendungan Hilir). Rupanya, karena kesalahpahaman ini, banyak yang merasa gerah tempat tinggalnya disebut "Udik". Padahal, makna Udik ya Selatan itu, tak lebih, tak kurang.

Mengapa juga Panongan (termasuk Cukang Galih), Curug (termasuk Ranca Iyuh, Ranca Kalapa, Cirarab, Ciodeng, dan Ranca Kebo), Legok, Tigaraksa (termasuk Sodong), dll disebut UDIK, dan sebaliknya Kampung Melayu, Tanjung Burung, Tegalangus, Lemo, Kedawung, Selapajang, Bojongrenged, Kajangan, Blingbing, Cengklong, Kosambi, Dadap dll disebut ILIR, sehingga orang Tionghoa penduduk aslinya juga disebut CINA UDIK dan CINA ILIR? Lantaran tempat-tempat itu secara GEOGRAFIS memang terletak di SELATAN dan UTARA BENTENG (Tangerang).€

Ari Novi seorang pemerhati Sejarah Cina Udik di Tangerang berujar “Tidak mudah mengungkap sejarah Cina Udik di Panongan dan wilayah pedalaman Kabupaten Tangerang lainnya. Hampir tidak satu pun dari kalangan tua masyarakat Cina Benteng mewariskan cerita lisan tentang kedatangan nenek moyangnya ke wilayah itu”.

Pengetahuan mereka akan sejarah relatif terbatas pada kehidupan orang tua mereka, atau kakek mereka," ujar Ari Novi. "Yang mereka tahu adalah bertani, dan bertani, menjual hasil bumi jika terjadi kelebihan produksi."

25 Marga
Menurut Ari Novi yang juga pernah menjadi Camat Panongan, terdapat lebih 25 marga di masyarakat Cina Udik di Panongan, Tigaraksa, Legok, dan Curug. Yang terbesar, tapi bukan dominan, adalah marga `Oen'. Lainnya adalah Oey (wie), Tan, Lim, dan dan belasan lainnya.

Dibanding permukiman Cina Benteng lainnya, Panongan paling multimarga. Namun mereka tidak mengenal pemimpin marga atau klan. Bahkan, sebelum desa mereka dibagi ke dalam RT dan RW, mereka tidak mengenai pemimpin permukiman, atau kepala kampung.

Yang mereka ketahui adalah Si A pewaris rumah kongsi yang bertugas menjaga meja abu, dan berhak atas seluruh tanah leluhurnya. Atau Si B yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan marga Lien atau Oey.

Cina Udik, menurut Ari Novi, adalah fenomena. "Mereka sangat berbeda dibanding masyarakat Cina Benteng lain yang dikenal masyarakat selama ini," ujarnya.

Lari Dari Pembantaian
Tidak mudah menjelaskan semua ini. Namun, menurut Ari, semua berawal dari Pemberontakan Cina 1740 di Batavia. Pemberontakan yang dipimpin Kapitan Nie Hoe Kong itu direspon secara keji oleh Gubernur Jenderal VOC Adrian Valkenier. Pada 10 Oktober 1740 terjadi pembantaian di seluruh sudut Batavia. Sebanyak 10 ribu orang tewas, ratusannya lainnya terluka.

Nie Ho Kong memimpin pelarian ke Jawa Tengah, dan sampai ke Solo. Ma Uk memimpin rombongan pelarian menyusuri pantai utara Tangerang, dan berhenti di wilayah yang sekarang disebut Mauk.

Rombongan lainnya menyusuri Sungai Cisadane, sebagian berhenti di Sewan, Neglasari, dan wilayah-wilayah sekitar. Mereka yang merasa belum aman di Sewan,dan Neglasari, melanjutkan perjalanan lebih ke udik. Sesampai ke tanah kosong bernama Karawaci, mereka menyeberangi Sungai Cisadane.

"Sesuai Perjanjian Damai 10 Juli 1659, tapal batas Kesulatanan Banten dan VOC adalah Sungai Cisadane," kata Ari Novi. "Sebelah Timur Sungai Cisadane masuk wilayah VOC. Sisi barat Kesultanan Banten".

Jika ingin aman, kata Ari Novi, orang Cina harus menyeberangi Sungai Cisadane. Itulah yang dilakukan nenek moyang Cina Udik di Panongan, Tigaraksa, Curug, Legok, Balaraja, dan lainnya. 

Mengapa saya harus Menulis lagi


Akhirnya saya menulis lagi setelah begitu lama vakum dalam dunia penulisan yang telah membesarkan nama saya. Kesibukan saya yang begitu padat dan membutuhkan perhatian BESAR menjadi kambing hitam atas vakumnya seorang penulis yang telah membuat ribuan cerpen, novel, artikel, naskah, puisi, sajak, pidato-pidato dan naskah ceramah . Sebenarnya banyak kejadian dan peristiwa yang begitu menginspirasi saya untuk menulis lagi.  Mulai dari peristiwa teraktual dari politik, ekonomi, roman, kriminal sampai menulis tentang ramalan masa depan. Namun karena kesibukan semua itu hanya lewat di kepala saya tampa mampu saya tuangkan ke dalam tulisan. Sampai akhirnya suatu peristiwa BESAR menyadarkan saya dimana seharusnya saya berpijak. Peristiwa yang seakan mengatakan kepada saya, disinilah dunia saya.         

Semenjak peristiwa itu saya bertanya kepada diri saya mengapa saya harus menulis lagi? Kenapa tidak jadi artis, penyanyi atau host saja yang tentunya lebih banyak menawarkan materi berlimpah. Kenapa harus menulis yang tidak bisa di jadikan ladang untuk bercocok tanam. Memang benar banyak penulis yang menjadi kaya karena menulis. Seperti J.K. rowling penulis novel paling laris di dunia “Harry Porter” atau seperti penulis lokal Andrea Hirata dengan novel fenomenalnya laskar pelangi yang menghasilkan pundi-pundi materi yang berlimpah. Tapi bukan berarti setiap penulis itu selalu sukses. Banyak juga penulis di luar sana yang sudah beralih profesi jadi penulis atau penulis cuma dijadikan pekerjaan sampingan karena mereka sadar kalau pekerjaan penulis belum bisa dijadikan pekerjaan tetap. Karena apa yang kita tulis belum tentu selalu sukses dan disukai oleh pembaca. Salah satu contoh adalah saya sudah berapa banyak tulisan yang saya kirim ke penerbit atau surat kabar yang dikembalikan lagi karena tidak sesuai dengan standar merka atau tidak cocok dengan zamannya.      

Kembali lagi kenapa saya harus menulis lagi. Banyak orang di bumi ini atau sebagian orang yang tidak bisa mengungkapkan perasaan mereka dan memendamnya didalam pikirannya sehingga menjadi penyakit yang tampa mereka sadari sudah tumbuh didalam tubuh mereka. Banyak dari  mereka yang malu atau memang tidak tahu kepada siapa mencurahkan isi hati mereka. Menulis tentang peristiwa yang kita alami menurut seorang Professor yang tidak mau disebutkan namanya secara tidak langsung bisa meringankan beban masalah yang telah menghimpit pikiran seseorang. Menulis adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata apalagi bila tulisan kita di sukai banyak orang. Makanya satu dasawarsa ini begitu banyak orang yang menulis apa yang mereka alami atau rasakan di media social seperti Facebook, twitter, atau path walaupun isi kontennya sedikit. 

Bagi saya menulis adalah mencurahkan pikiran yang tidak sempat diucapkan dengan kata-kata. Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari baik itu sedih atau gembira adalah sebuah inspirasi tampa batas untuk saya jadikan ide tulisan. Disuka atau tidak disuka tulisan kita oleh pembaca adalah persoalan belakangan yang terpenting adalah bagaimana tulisan kita bisa memuaskan kita dulu. Kabanyakan para penulis pemula berhenti menulis karena mereka merasa tulisan mereka tidak disukai oleh pembaca. Padahal untuk menghasilkan tulisan yang disukai oleh pembaca butuh proses belajar yang panjang sampai pada akhirnya tulisan kita bisa diterima oleh masyarakat.

Mengapa saya harus menulis lagi karena saya merasa ini adalah sebuah panggilan. Walaupun saya sudah menutup kedua telinga saya kuat-kuat tetap saja panggilan untuk menjadi penulis akan terus menggaung-gaung di kepala saya. Karena Penulis adalah sebuah indetitas selain KTP dan SIM hehehe.  Syukur-syukur tulisan saya bisa diterima oleh masyarakat dan bermanfaat bagi mereka.

Akhirnya inilah babak baru dari tulisan saya. Semoga tulisan ini dan tulisan-tulisan selanjutnya dapat menghibur anda,


Rumah Di Ujung Jalan


Aku sering bertanya pada diriku sendiri kapan aku akan mempunyai sebuah rumah  sendiri walaupun itu hanya di ujung jalan. Rumah tempat aku beriistirahat ketika aku lelah. Tempat aku berkumpul dan bercanda bersama keluarga kecilku. Tempat dimana aku akan menghabiskan masa tuaku.

Untuk menggampai mimpiku iseng-iseng aku cari rumah impianku itu. Kususuri jalan dari kampung ke kampung lewati begitu banyak rumah. Sampai suatu ketika aku  berhenti di sebuah tanah kosong  tepat di ujung jalan. Namun aku sedikit kecewa karena di sana sudah berdiri satu makam yang sepertinya belum lama dikebumikan, sebab tanahnya masih terlihat basah. Padahal lokasinya cukup menarik untuk di tinggali.

Kupandangi lama juga gundukan tanah itu, Entah sudah berapa lama juga aku terdiam disana. Memandang bisu gundukan tanah itu . Aneh juga, padahal sebelumnya aku sudah biasa melihat makam karena rumahku memang dekat dengan TPU.

Aku berpikir inikah sebuah akhir dari sebuah perjalanan hidup yang panjang. Inikah tempat dimana semua yang fana itu berakhir. Inikah takdir yang tidak bisa di ubah.

di ujung jalan itu ada sebuah rumah. Rumah yang tidak besar. Tapi cukup untuk kita berisitirahat. Rumah itu tepat di ujung jalan dan suatu hari kitapun akan berhenti dan tinggal di rumah di ujung jalan itu. 


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadiid, 57: 20)

Pukul 3 Pagi


Pukul 3 pagi
Di kala orang tertidur kita terjaga
Berbicara kepada Allah sampai lupa waktu

Pukul 3 pagi
Ketika Allah turun ke bumi
dikabulkannya semua doa-doa kita

Pukul 3 pagi
Siapa yang meminta akan di berikan
Siapa yang memohon akan di kabulkan
Siapa yang meminta ampun akan diampunkan

Pada tiap malam Allah SWT turun (ke langit dunia) ketika tinggal seperti malam yang akhir. Ia berfirman : “barang siapa yang menyeru-Ku akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta pada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa memohon ampunan kepada-Ku, aku ampuni dia” (HR bukhari dan Muslim)

Jatuhlah


Jatuhlah agar kau bisa belajar untuk bangkit kembali
Jatuhlah agar kau tahu bagaimana rasanya sakit
Jatuhlah agar kau tetap menapak di bumi
Jatuhlah agar kau tahu apa artinya kehidupan

Bangunlah setelah kau terjatuh
Bangunlah apa yang telah hancur
Bangunlah dengan penuh rasa yakin
Bangunlah untuk meraih semua mimpi

Disana atau disini tidak ada yang beda
Musim panas musim hujan bukanlah penghalang
Carilah rezeki Allah sebanyak mungkin
Dan setelah itu kembalikanlah semua kepadaNYA

Lupakanlah masa yang telah lalu
Jangan terlalu pikirkan yang belum tentu datang
Anda hidup di masa sekarang
Berbuatlah yang terbaik di hari ini
Karena apa yang anda lakukan hari ini adalah cerminan di masa yang akan datang

Janganlah bersedih
janganlah menangis
Jangan pula kau berputus asa
Setiap masalah ada jalan keluarnya
Setiap kejadian tersimpan hikmah

Ya Allah ya Tuhan kami berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Amin